Wanita Berpakaian tapi Telanjang

| May 1, 2012 | 0 Comments

Berpakaian tapi telanjang

Wanita dalam pandangan Islam adalah makhluk yang istimewa. Kelebihan yang dimiliki kaum wanita adalah daya tarik terhadap lawan jenisnya. Kelebihan inilah yang mampu merusak suatu kaum apabila tidak diarahkan. Islam telah mengatur dengan sangat indah bagaimana cara wanita berpakaian. Bukan untuk membatasi ruang gerak, namun untuk mashlahat masyarakat, dan kebaikan diri wanita itu sendiri.

Islam mengajarkan agar para wanita memakai pakaian yang bisa menjaga kehormatan mereka, dan menjauhkan mereka dari fitnah. Namun saat ini, penampilan kaum wanita semakin memprihatinkan. Tak jarang pakaian yang mereka kenakan sangat menggoda. Betapa tidak, pakaian yang mereka kenakan di depan umum adalah pakaian yang ketat. Kalaupun pakaian itu menutup sebagian besar tubuh mereka, ukuran yang ketat itu menyebabkan bentuk tubuh tampak dengan jelas.

Rosululloh r telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh ;

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kedua golongan ini belum  muncul di zaman Nabi r, karena sucinya zaman beliau. Kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Dan zaman sekarang ini, lebih nyata lagi terjadi, dan kerusakannya lebih parah.

Makna Berpakaian tapi Telanjang

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna “wanita yang berpakaian tapi telanjang” ;

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Alloh, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Alloh.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan ; “yang “berpakaian tapi telanjang” adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna “berpakaian tapi telanjang” lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna “berpakaian tapi telanjang” ada tiga makna.

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya

Wanita berpakaian tapi telanjang dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya, dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup. Dari pendapat para ulama’ di atas, bisa kita garis bawahi bahwa istilah berpakaian tetapi telanjang bisa disematkan kepada orang yang berpakaian mini, tipis atau ketat. Karena ketika mereka memakainya, ada sebagian anggota badan yang terbuka. Kalaupun tidak tampak warna kulitnya, tetapi lekuk-lekuknya masih tampak.

Contoh pakaian yang apabila seorang wanita memakainya, ia disebut “berpakaian tapi telanjang”

Jilbab gaul

Jilbab yang ketat dan tidak menutupi leher dan dada.

Baju ketat

Baju yang mini. Apabila dipakai maka lekuk badan akan kelihatan, seperti dada, pinggul, paha, dan sebagainya yang sering kita jumpai saat ini.

Pakaian yang transparan

Walaupun menutupi aurot, wanita dengan berpakaian seperti ini akan terlihat samar-samar bagian dalamnya.

Takutlah dengan Ancaman Ini!!

Lihatlah ancaman Nabir. Wanita yang  berpakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau r, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”

Ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukanlah perkara sepele. Dosanya bukanlah dosa kecil. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium.

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi r ; ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!

pic : http://images.maman12.multiply.com/image/1/photos/24/600×600/48/Pakaian-Muslimah.JPG?et=WQD%2BFa07WNHGMm,kqJcl,g&nmid=167228165

Category: Artikel

About the Author ()

"..:: Ordinary People With Ordinary Life ::.."

Leave a Reply